[Oneshot] Hand

[FF] Hand

Title : Hand

Author : AutumnGirl2309 @anindanur2309_

Main Cast : Kim Taehyung

Support Cast : Kim Seokjin, Kim Namjoon

Genre : Life, tragedy, sad

Length : Oneshot

Rating : PG-15 (Cerita) & PG-17 (Sadis)

Disclaimer : Semua milik Yang Kuasa. Aku hanya meminjam namanya saja.

P.S : Ini hanya FIKTIF belaka. Tidak meniru cerita dari anime Kiseijuu – Sei no Kakuritsu, karena sebelum menyusun cerita ini, aku belum mengenal anime itu. Tolong ambil sisi positifnya saja. Jangan meniru, jangan menjiplak. Selamat membaca ^^v
*Jika ceritanya rumit, kurang dapat alurnya, akhir kurang memuaskan, atau salah ketik, mohon maaf ya 😀

***Hand***

Tangan dapat melakukan penyimpangan dari apa yang kau inginkan.” Seseorang pernah memberitahuku tentang itu. Kuamati setiap detail tanganku. Tak ada masalah secara keseluruhan. Hanya tulang yang digerakkan otot dan dilapisi daging, tak lebih dari itu. Namun gerakannya ditentukan oleh sang otak. Aku masih tak mengerti mengapa orang-orang berpikiran bahwa tangan dapat melakukan hal dengan sendirinya tanpa perintah otak. Sejujurnya, aku tak mudah percaya apa yang diucapkan orang-orang tanpa adanya pembuktian. Yah, begitulah diriku.

“Taehyung!” Pekikan suara yang paling aku kenal sontak membuatku menoleh padanya. Seorang pria berperawakan tinggi beraura dingin, namun dalam hatinya ia sungguh hangat. Pria yang digilai setiap gadis karena ketampanannya dan keramahannya. Mungkin aku tidak seberuntung dia, maksudku hidup dilingkup kemewahan, mempunyai tampang rupawan, otak yang cerdas, pandai bergaul, serta hati yang lembut. Ya walaupun ia dingin. Itu saja. Tapi aku? Aku hanyalah orang sederhana-aku bersyukur diberikan tampang rupawan, dan otak yang cerdas-, namun aku tak pandai bergaul, dan terkadang aku bersikap acuh pada orang lain. Sehingga aku tak begitu terkenal seperti dia-Kim Seokjin-dan tak mempunyai teman. Itulah kekuranganku.

“Ada apa?” Balasku dengan nada seperti biasa, acuh. Seokjin berhenti tepat di hadapanku dengan menyodorkan segelas kopi panas. Aku mendongak menatap wajahnya. Terukir senyuman penuh arti dari setiap gelagatnya. Aku paham dan menerima tawarannya.

“Taehyung, kenapa kau seperti itu?” Sedikit tersontak, aku menatap nanar salju di bawah sepatuku. Aku mengerti sangat apa yang Seokjin maksud. Mengapa aku selalu acuh. Itulah yang dia maksud.

“Itu bukan urusanmu.” Jawabku santai tetapi penuh nada ketus.

“Itu memang bukan urusanku, tetapi ketahuilah, mereka membencimu.” Sial! Lagi-lagi ‘mereka’. Mengapa setiap detik harus ada kata ‘mereka’ yang menjurus pada anak-anak sok keren itu. Aku bahkan membenci ‘mereka’ jadi buat apa aku berbuat baik pada ‘mereka’? Toh, nanti aku yang tersiksa karena ulah tak wajar dari ‘mereka’.

“Biarkan saja mereka. Kalau mereka memperhatikan polah-tingkahku yang seperti itu, berarti mereka stalker-ku. Hahaha.” Aku tertawa garing, ingin mengalihkan pembicaraan sejujurnya. Seokjin hanya terkekeh dan meminum kopi panasnya lagi. Sesekali meniupnya agar tak terlalu panas.

“Ada apa dengan tanganmu?” Pertanyaan yang tepat sasaran. Aku meliriknya sekilas kemudian membuang nafas dengan kasar. Terlihat kepulan uap keluar dari mulutku.

“Sudah kukatakan, ini bukan urusanmu.” Aku memasukkan tangan ke saku jaket. Namun yang satunya kubiarkan tetap dalam posisinya memegang gelas kopi. Aku menegaknya perlahan. Seokjin membungkam beberapa saat setelah aku katakan bahwa ini semua bukan urusannya.

“Ini telah menjadi urusanku ketika kau menjadi teman terbaikku.” Sedikit tersentak dengan ucapannya. Apa yang dia katakan? Teman terbaik? Aku tak percaya! Teman terbaik dalam musim ini, mungkin. Aku tertawa geli mengingat ucapanku barusan. Teman musiman. Cih!

“Kapan kau menganggapku teman terbaik? Hanya di musim ini bukan?” Kuangkat sebelah alisku untuk menatapnya sebelah mata. Bukannya aku merendahkan Seokjin. Tapi aku tidak percaya apapun jika tanpa bukti. Harus ada fakta.

“Saat kita pertama bertemu,” Ucapnya menggantung. Aku mendesah pelan dan membuang gelas kopiku yang telah kosong ke tempat sampah yang tepat berada di sampingku. “di kala itu. Dimana orang-orang itu mengincar nyawaku.” Aku tersenyum miris mengingat kisah Seokjin tahun lalu di musim dingin.

“Pria yang beruntung.” Batinku.

***Flashback On***

Pagi itu, badai salju menerpa Kota Seoul. Dengan terpaksa, semua instansi diliburkan, kecuali instansi penting seperti instansi pemerintahan, pertelevisian, perbankan, dan lembaga-lembaga kemasyarakatan. Tak hanya itu, kedai-kedai yang telah buka dari pukul 06.00 KST tetaplah buka untuk melayani pelanggan yang enggan memasak. Aku, Kim Taehyung, bocah yang baru saja keluar dari rumah sakit sedang berdiri di bawah tiang lampu dekat dengan halte. Aku memang aneh. Bukannya berlindung di halte tetapi mendatangi musibah yang jelas-jelas akan membunuhku. Tapi aku tak berniat bunuh diri, aku hanya menunggu seseorang di sini. Aku tak ingin ingkar janji. Maka dari itu aku rela terserang penyakit lagi dari pada aku berdosa karena mengingkari janji.

Dua jam telah terlewati begitu saja. Orang itu juga belum menampakkan batang hidungnya. Sedari tadi  hanya salju yang setiap menit kian bertambah banyak. Kusadari bahwa tubuhku telah tertutupi oleh salju. Tidak terlalu tebal, tetapi berhasil membuatku kedinginan. Sial! Jaket yang aku kenakan juga tak mempan ternyata. Kalau seperti ini, lebih baik aku pulang.

“Maafkan aku, tapi kau membuatku tersiksa.” Batinku.

Dengan tubuh menggigil, aku singgah sejenak ke kedai ramen pinggir jalan. Beruntungnya aku membawa uang, jika tidak, aku akan mati mungkin. Sembari menunggu ramen pesananku matang, aku membersihkan tubuhku dari butiran salju. Sulit memang, tapi aku harus melakukannya agar orang-orang tidak memandangku sebagai orang gila. Bayangkan saja, keadaaan seperti ini jalan sendiri di trotoar. Kupikir aku memang melakukan hal yang nekat bin sinting. Ah! Sudahlah, aku ‘kan hanya menepati janji.

Aroma ramen yang aku pesan telah menggugahku. Aku berterima kasih pada pelayan dan mulai mengambil setiap bagian dari ramen untuk mengisi perutku dan tentunya menghangatkanku. Aku tidak berpikiran untuk menikmati soju ataupun wine. Karena aku tau, itu akan membuat penyakitku kambuh.

“Akhirnya.” Ucapku. Satu mangkuk ramen telah habis. Aku meninggalkan uang di atas meja dan mulai berjalan kembali untuk pulang. Kuamati keadaan sekitar, rupanya salju telah tenang. Aku tersenyum kecil dan bersiul ringan. Yah, sekedar untuk menghibur diri.

CITT. . . BRAKK. . .

Aku tersentak dan menoleh ke asal suara. Jalanan terlihat berantakan tepat di belakangku. Mobil hitam menabrak mobil biru yang begitu mewah. Seorang lelaki muda keluar dari mobil biru dan berlari ke arah yang sama denganku. Namun kemudian memasuki kios kosong yang penuh dengan tumpukan kardus.

“Dasar bocah! Tangkap dia!” Teriakan seorang lelaki tua memerintahkan-mungkin bawahannya-untuk mengejar lelaki yang keluar dari mobil biru. Aku mengernyit dan mencoba untuk tak peduli. Tetapi hati berkata lain. Dia berkata bahwa aku harus menyelamatkan lelaki itu. Aku berpikir sejenak, namun akhirnya aku coba.

Aku berlari ke dalam kios itu. Sedikit mengendap-endap untuk mencari lelaki tadi. Menilik dari tumpukan kardus dan berjalan perlahan ke dalam ruangan yang menurut instingku adalah tempat bersembunyinya lelaki itu. Berhubung kios ini luas, aku dapat melakukan pergerakan tanpa takut tertangkap basah menyelamatkan lelaki tadi.

“Enyahlah kau?!” Teriak lelaki itu padaku setelah aku sukses memasuki ruangannya. Aku tersenyum miring dan melipat kedua tangan di depan dada. Menatapnya dari ujung topi hingga ujung sepatu. Ternyata orang berkantong tebal. Aku terkekeh pelan dan menatap matanya. Walaupun jarak begitu jauh, dapat aku pastikan dia mulai bergetar ketakutan.

“Kau ingin aku lenyap dengan cepat? Silakan membuat kegaduhan di sini jika kau menginginkan nyawaku melayang. . .” Ucapku tenang, “dan juga nyawamu tentunya.” Aku berjalan mendekatinya. Lelaki tinggi dengan wajah yang rupawan serta aroma orang terpandang melekat pada dirinya.

“Pantas dia diincar.” Batinku.

“Mau apa kau?! Jangan berpura-pura peduli padaku!” Suara beratnya menggema di penjuru ruangan. Aku kembali tersenyum miring padanya. Oh, aku lupa. Aku orang asing di sini. Bodoh!

“Kalau kau tak ingin selamat, baiklah. Aku akan pergi. Kesempatanmu untuk hidup kenapa kau sia-siakan? Rugi! Sampai jumpa.” Aku melangkah ringan kembali ke pintu. Namun lelaki itu menahan bahuku. Aku terkekeh dan melepas tangannya.

“Kenapa? Apa kau takut, huh?” Right! Sifat asliku keluar.

“Tolong aku.” Ucapnya lirih. Aku tersenyum dan berbalik padanya.

BRAKK

Pintu ruangan terbuka, “sekarang!” Teriakku pada lelaki di sampinku untuk menembus jendela. Tak peduli kaca yang menggores sekujur tubuhku, aku dan lelaki ini berlari keluar. Menelusuri daerah yang sepi dan menerobos ke hutan cemara. Aku ingin membuat lelaki itu jauh dari jangkauan-sepertinya penjahat-yang mengincar nyawa lelaki yang aku ajak. Setelah dirasa cukup jauh, aku duduk di bawah pohon cemara. Lelaki tadi terengah-engah mengejarku dan duduk juga di pohon seberang.

“Sepertinya cukup untuk membuat mereka tak mengikuti kita.” Ucapku memastikan. Lelaki yang bersamaku tersenyum dan berdiri, mendekatiku dan mengulurkan tangannya padaku. Aku mengernyit bingung.

“Kim Seokjin. Dan kau?” Ucap lelaki itu-Seokjin. Aku mengerti dan membalas salamnya.

“Kim Taehyung.” Dengan cepat aku melepas tanganku dari tangannya dan berdiri. Melanjutkan perjalanan menuju kota. Perlu diketahui, hutan ini sangat aku kenal untuk pergi ke rumah lamaku. Maka dari itu aku tidak takut tersesat.

“M-mau kemana kau, Taehyung-sshi?” Teriak Seokjin padaku sembari mengikutiku. Aku mendesah pelan dan berhenti berjalan.

“Itu bukan urusanmu. Urusanmu denganku cukup sampai di sini. Sekarang pergilah.” Jawabku dingin tanpa berbalik dan melanjutkan perjalananku lagi.

“Bolehkah aku ikut denganmu? Aku tak tahu kemana harus pergi.” Pinta Seokjin padaku. Aku berfikir sejenak.

“Baiklah jika itu maumu.” Jawabku pada Seokjin.

“Gomawo, Taehyung-sshi.” Seokjin mengikutiku hingga sampai di rumah lamaku, tempat yang penuh kenangan. Kenangan pahit yang menyiksa

***Flashback Off***

Aku tertawa mengingat insiden yang hampir membuatku mati muda. Taktik mereka bagus juga. Aku tak menyangka jika itu telah direncanakan sebelumnya. Sial! Untung saja itu telah berlalu satu tahun yang lalu. Serta aku bersyukur masih diberikan waktu untuk hidup sekali lagi.

“Aku ingat itu, Seokjin. Aku tak lupa akan hal itu.” Aku tersenyum padanya lantas berdiri.

“Terima kasih untuk semuanya.” Aku melangkah ringan menuju apartemen tempat aku tinggal selama ini. Aku tidak ingin tinggal di rumah. Itu hanya menyiksa batinku saja. Karena rumah itu tempat dimana aku terakhir melihat orang tuaku. Orang tuaku telah tiada sejak 8 tahun yang lalu. Di saat aku ingin menikmati hari bahagiaku, di saat itu juga aku mendapat hari burukku. Hari penuh darah yang membuatku sendiri.

***Hand***

Sore hari telah menyapa. Kubuka tirai jendela dan melihat pemandangan alam luar apartemen. Taman kota dipenuhi oleh anak kecil dan pasangan-pasangan muda. Aku mendesah, rasanya aku ingin sekali pergi ke sana dan menikmati sore dengan orang tuaku. Tapi itu pasti mustahil. Maka dari itu aku selalu mengurung di apartemen kecuali aku mempunyai jadwal kuliah ataupun jadwal kerja. Beruntungnya aku kerja di malam hari. Jadi aku dapat beristirahat dahulu di jam sore.

Aku beranjak dari tempat tidur dan menuju ke westafel. Menatap tirusnya wajahku di cermin dan mengambil air untuk membasuhnya. Segar namun juga dingin. Kutatap tanganku. Tangan yang pernah melukai orang lain dan hampir membunuhnya.

“Apa ini yang dimaksud?” Ucapku pada diri sendiri.

TING

Bel apartemenku berbunyi. Aku bergegas menuju pintu untuk memastikan siapa yang berkunjung ke apartemenku. Aku membuka pintu dan melihat seorang lelaki berdiri dan tersenyum padaku. Tunggu dulu, lelaki ini adalah . . .

“Kim Namjoon-sshi?!” Seruku pada lelaki di hadapanku. Lelaki yang pernah menolongku saat aku dirawat di rumah sakit. Seorang dengan misterius dan pendiam. Namun, dibalik semua itu, ia hanya memasang topeng saja. Di dalam hatinya, ia adalah jiwa penolong dan baik hati. Aku tak menyesal bertemu dengannya. Selain ia dulu merawatku, ia juga membiayai kuliahku walaupun aku tak mempunyai hubungan darah dengannya. Aku sangat berhutang budi padanya.

“Kim Taehyung! Halo, bagaimana kabarmu?” Kupersilakan Namjoon-sshi untuk masuk terlebih dahulu. Sembari berjalan menuju dapur, aku menjawab pertanyaanya.

“Aku baik-baik saja, Namjoon-sshi.” Kupersiapkan minuman dan hidangan untuk tamu istimewaku ini.

Selama tiga setengah jam, aku terlarut suasana nyaman dan berbincang-bincang dengannya. Selama itu pula, Namjoon-sshi menemaniku dalam kesendirian. Semua hal kami bicarakan termasuk keluh-kesahku selama aku sendirian ditinggal pergi ke luar kota oleh Namjoon-sshi.

“Namjoon-sshi, bolehkah aku bertanya sesuatu?” Kubertanya dengan ragu dan menatap telapak tanganku

“Ada apa?” Jawabnya penuh keramahan.

“Apa benar tangan dapat melakukan sesuatu yang tidak kita sadari?” Namjoon-sshi terdiam dan menatap telapak tangannya juga. Apa aku salah bertanya hal itu padanya?

“Menurutku itu benar. Aku juga pernah berpikiran seperti itu dan itu terbukti.” Ucapnya pelan dan matanya menerawang jauh ke dalam ingatan.

“Aku pernah melakukan hal yang berada di luar kendali otakku, dan yang mengendalikan adalah tanganku. Pertamanya aku juga tak percaya, tapi ini sebuah kenyataan.” Nadanya sedikit gelisah, aku memasang telinga baik-baik.

“Aku pernah . . . membunuh orang dengan tanganku ini.” Ucapnya lirih. Aku sedikit terlonjak kaget. Sedikit tidak percaya dengan yang baru saja ia ucapkan.

“Apa itu benar?” Tanyaku penuh keraguan. Namjoon-sshi mendesah dan meminum jus yang aku berikan.

“Ya. Sekitar delapan tahun lalu aku melakukan itu.” Kubulatkan mataku setelah mendengar kata ‘delapan tahun’, Aku mengingat kejadian delapan tahun lalu saat kejadian itu berlangsung.

***Flashback On***

Pagi hari telah menyapa dunia, dengan terpaksa aku membuka mata. Rasa kantuk masih menyerangku, tapi bagaimana lagi? Hari ini aku harus bergegas ke sekolah. Dengan langkah menyeret, aku menuju kamar mandi, membersihkan tubuhku yang lengket. Setelah itu, aku menuju lantai bawah untuk sarapan. Seragam sekolah telah melekat di tubuhku, dengan sedikit tatanan anak nakal. Lingkungan sekolahku yang membuatku seperti ini.

“Ibu dan ayah telah berangkat rupanya.” Batinku. Dengan keadaan seperti itu, dengan terpaksa aku hanya meminum susu dan mengambil roti isi di lemari pendingin. Karena waktu telah menujukkan pukul 06.30, aku bergegas pergi ke sekolah. Menggunakan sepeda gunung kesukaanku, aku melaju dengan kecepatan penuh ke sekolah. Semilir angin musim gugur membelai wajahku dan mengacak rambutku yang telah aku tata. Aku tak menghiraukannya, karena ini adalah gayaku.

Kegiatan-kegiatan di sekolah telah aku lewati. Sekarang waktunya untuk pulang. Berhubung sebentar lagi memasuki musim dingin, maka hari ini adalah hari terakhir sekolah sebelum liburan musim dingin. Aku sangat bahagia, akhirnya aku dapat bersantai di rumah dan membaca komik kesukaanku.

“Aku pulang.” Sapaku setelah sampai di rumah. Keadaannya sepi seperti tadi pagi. Hanya saja kendaraan ibu dan ayah telah terparkir di garasi, menandakan beliau telah tiba. Aku berlari ke satu kamar ke kamar lain untuk memastikan. Namun tetap saja kosong. Satu tempat belum aku pastikan, kamar di kakakku yang telah meninggal dunia. Semenjak kakakku tiada, aku jarang masuk ke kamarnya. Hanya akan membuatku terluka bila mengingatnya. Aku putuskan untuk tidak ke kamar itu demi kebaikanku.

“Ibu, ayah.” Ucapku lirih. Bau anyir tercium tepat di depan pintu kamar kakakku. Aku sedikit tersentak, apakah akan terjadi kembali pengalaman menyakitkan itu? Di kamar ini juga? Jantungku berdegub tak beraturan, rasa takut menyerang dan menghantuiku. Dengan penuh keyakinan, aku membuka kamar kakakku. Pemandangan yang sama diperlihatkan padaku, namun dengan korban yang berbeda-ayah dan ibu. Posisi mereka saling memunggungi, kepala mereka menunduk. Masih terlihat jelas bahwa mereka baru saja pulang karena seragam kantor mereka masih dikenakan. Tangan dan kaki mereka diikat. Sebuah katana menembus jantung mereka dalam sekali tusuk. Darah menggenang disekitar mereka. Belum lagi luka luka lebam di wajah mereka. Aku tak sanggup melihat keadaan kedua orang tuaku. Air mataku yang aku bendung akhirnya tumpah juga. Mengapa setiap anggota keluargaku harus berakhir dengan cara seperti ini? Sekelebat bayangan kakakku memenuhi pikiranku. Cara dia tiada juga seperti ini. Orang macam apa yang tega membantai orang tuaku dan kakakku seperti ini? Aku berteriak dan kemudian terduduk, tak mampu menahan segala emosi di lubuk hati. “Oh Tuhan, bantulah hamba-Mu ini dalam menghadapi cobaan.” Seketika pandangan menjadi gelap setelah tengkukku terkena sesuatu yang keras.

***Flashback Off***

Aku tersadar dari lamunanku lantas melihat wajah Namjoon-sshi. Aku sedikit menata perkataanya tentang tragedi yang dilakukan oleh kedua tangannya. Apa itu berarti dia yang melakukannya?

“Delapan tahun lalu saat aku masih berumur 17 tahun, aku menusuk salah satu teman terbaikku di Jepang. Aku tak bermaksud membunuhnya, namun gerakannya yang membahayakan dan menakutiku, aku langsung mengambil katana dan mencoba mengusirnya. Sebaliknya, aku bukan mengusirnya, melainkan menghilangkan nyawanya. Tanganku bergetar hebat dan membuatku berpikiran tidak-tidak. Aku melarikan diri karena aku tidak tega melihat temanku terbunuh karena tanganku sendiri. Aku seorang pegecut.” Jelasnya panjang lebar. Aku membuang nafas gusar dan berdiri, melangkah menuju meja kecil di samping perapian. Membuka laci dan mengambil salah satu barang dari dalam laci.

“Tangan dapat melakukan penyimpangan dari apa yang kau inginkan, sepertinya itu benar, Namjoon-sshi. Aku tak mengerti mengapa aku harus membawa gunting ini. Aku tak pernah menggunakan gunting ini semenjak kejadian tragis orang tuaku, karena aku takut akan terjadi hal yang tak diingankan setelah aku membawa gunting ini.” Namjoon-sshi mendekatiku dan menepuk pundakku, “lakukanlah. Setelah itu, kau takkan merasakan hal aneh lagi. Terima kasih banyak kau telah hadir dalam hidupku.” Namjoon-sshi tersenyum tulus padaku, namun di sudut bibirnya turun darah segar. aku tersentak lantas melihat apa yang sedang terjadi.

“Tidak mungkin!” Teriakku dalam hati. Gunting yang aku bawa telah menusuk Namjoon-sshi. aku tak melakukannya, sungguh! Aku tak tahan lagi, air mataku menetes melihat kejadian tragis yang baru saja terjadi.

“Namjoon-sshi, maafkan aku. Aku tak bermaksud melakukan itu padamu, Namjoon-sshi.” Batinku. Aku tak dapat mengucapkan apapun, hanya ini yang dapat aku ucapkan.

“Aku kejam dan pengecut.” Kataku lirih.

“Itu memang benar!” Teriak sesorang di balik pintu. Dengan sigap ku letakkan tubuh Namjoon-sshi yang tak bernyawa dan membuka pintu apartemen, “oh, ternyata dirimu.” Ucapku datar pada orang di depanku.

“Hanya melihat aksimu. Sungguh menyenangkan.” Orang itu tersenyum menang dan memasuki apartemenku. Melihat kondisi Namjoon-sshi dan tertawa.

“Kau gila!” Ucapku pada orang itu.

“Bukan aku, melainkan kau sendiri. Mengapa kau dengan mudahnya percaya bahwa tangan dapat melakukan hal yang tidak ingin kau lakukan? Justru pemikiran orang lain yang membuatmu berpikiran seperti itu seakan-akan tanganmu melakukan tanpa keinginanmu. Biar aku perjelas, Namjoon-sshi sebenarnya ingin mengakhiri hidupnya sendiri dengan menggunakan tanganmu.” Ucap orang itu padaku dengan penjelasan panjang lebar. Kalimat terakhirnya membuatku kaget setengah mati. Tak mungkin Namjoon-sshi melakukan hal ini karena keinginannya.

“Dia manusia berjiwa setengah psikopat. Dia selalu ingin menyingkirkan jiwa psikopatnya itu dengan cara apapun. Asal kau tahu, cerita tentang dirinya membunuh temannya sendiri hanya sebuah wacana fiktif belaka. Kentara sekali bahwa dia membunuh temannya sendiri. Dia menutupinya dengan mengatakan bahwa tangan dapat melakukan hal yang tidak kau inginkan. Apa kau ingat kata-kata terakhirnya?” Jelasnya lagi. Sungguh aku tak menyangka akan menjadi seperti ini.

“Lakukanlah. Setelah itu, kau takkan merasakan hal aneh lagi. Terima kasih banyak kau telah hadir dalam hidupku, itu kalimat terakhir Namjoon-sshi.“ Jawabku seraya menatap tubuh tak bernyawa Namjoon-sshi.

“Pikirkanlah maksud di balik kalimat itu. Jadi, terima kasih banyak kau telah membuatnya tenang. Aku akan membawanya pergi. Ini semua bukan tanggunganmu, namun ini tanggunganku. Sampai jumpa.” Orang itu berlalu membawa tubuh Namjoon-sshi dengan santainya. Aku menelan salivaku kasar. Aku tak percaya akan hal seperti ini. Seakan pintu-pintu pertanyaan yang ada di pikiranku terbuka setengahnya.

“Terima kasih, kau memang teman terbaik, Seokjin. Kau telah membantuku membuka pertanyaan dan pemikiran yang belum sempat aku buka.” Aku tersenyum ketika kejadian itu terbuka. Aku dan Seokjin saling berjabat tangan di tengah musim dingin, serta ucapan-ucapan yang penuh arti selama dia bersamaku. Semua untuk kejadian ini.

SELESAI

Akhirnya selesai 🙂 Bagaimana pendapat kalian? Nge-gantung? Masih bayak yang misterius? Kalo kalian mau, aku bisa kok bikin bagian keduanya ^^ Aku tunggu pendapat kalian 😀

Advertisements

2 thoughts on “[Oneshot] Hand

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s