Confession

confession

Author : bangtanpinkeu
Main Character : BTS Jungkook
Rating : PG-13
Gendre : Romantic, Fluffy
Summary : Jungkook adalah pemuda berandal yang menemukan lentera terangnya lebih awal. Dalam satu sosok manis, Song Risae.

***

Ini sudah menit ke 9 dan Jungkook masih berdiri dalam keheningan. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Gugup. Yang bisa ia lakukan hanyalah berjalan bolak balik didepan pintu keluar sekolah. Kulit wajahnya yang biasa berwarna putih susu kini terlihat pucat. Kedua tangannya saling bertaut, berkeringat. Rasanya musim dingin kali ini hanyalah kata-kata saja. Nyatanya lelaki itu malah berkeringat disaat yang lainnya berusaha menutupi setiap pori-pori kulit mereka dengan jaket tebal. Ponsel Jungkook bergetar, tanda ada sms masuk. Buru-buru lelaki itu memeriksa.

Sepertinya aku akan dating terlambat.
Biasa, terjebak untuk membantu ibu menjaga cafe.
Tidak apa-apa, kan?

Jungkook mulai menuliskan balasan dari pesan masuk tersebut.

Bukan masalah.
Aku juga masih harus menyelesaikan beberapa urusan terlebih dahulu.

Send. Jungkook menghela nafas panjang dan menendang gumpalan salju yang menumpuk di jalanan. Bukan masalah katanya? Itu hanya sekedar ucapan. Dalam hati Jungkook merasakan sedikit kecewa karena orang yang ia tunggu tidak bisa datang tepat waktu. Namun ada baiknya juga, ia bisa mengontrol dirinya agar tidak terlalu gugup.
Akhirnya lelaki bernama lengkap Jeon Jungkook ini memutuskan untuk menjelajah kota sembari menunggu waktu berjalan lebih jauh. Ia tak punya tujuan. Hanya tumpukan salju dijalanlah yang merekam jejak langkah lelaki itu. Jika mereka bisa berbicara, mungkin salju-salju itu akan menceritakan kegundahan hati Jungkook.
Tuan Jeon berhenti tatkala ia melewati sebuah halte bus didepan sebuah gedung perkantoran. Samar-samar Jungkook menyunggingkan senyuman. Rentetan ingatan mulai membayangi kepala lelaki ini. Ia terlena oleh memorinya sendiri. Malam itu, di halte bus tempatnya berdiri sekarang.

“ Kau tidak apa-apa?” tanya sebuah suara asing. Jungkook yang tengah duduk sendirian di halte bus mendongakkan kepala. Ditatapnya sang pemilik suara dengan wajah terganggu. Namun yang ditatap tidak bergeming. “ Apakah kau terluka?”
“ Bukan urusanmu” jawab Jungkook ketus. Pemilik suara itu, seorang gadis berambut panjang, dengan tanpa ragu malah duduk disamping Jungkook. Ia memperhatikan lelaki disebelahnya, pandanganya focus pada luka-luka disekujur tangan Jungkook.
“ Apakah sakit?” tanya gadis itu lagi. Jungkook tak menjawab. Hanya mengirimkan tatapan mengusir.
“ Akh! Hey!” Jungkook meringis kesakitan. Gadis pengganggu itu dengan lancang menyentuh luka-lukanya. Tapi saat ditatap dengan kesal, ia malah memberikan senyum polos pada Jungkook.
“ Aku rasa aku bisa membantu” kata gadis itu. Ia membuka tas ransel yang sedari tadi disandang dibahunya, membongkar muatan didalamnya demi mencari sesuatu. Jungkook agak takjub ketika gadis itu mengeluarkan perban, obat merah, dan beberapa plester luka.
“ Kau…membawa semua itu? Untuk apa?” tanya Jungkook. Rasa kesalnya mendadak hilang entah kemana. Gadis itu tertawa kecil.
“ Aku adalah anggota palang merah. Jadi barang-barang ini penting untukku” jawabnya. Ia meRisaek tangan Jungkook dan merentangkannya di pangkuannya. Sebenarnya tuan Jeon tidak mau diobati, tapi ia juga tidak mau ada yang melihatnya terluka seperti ini.
Dengan telaten, gadis itu membersihkan luka-luka Jungkook, membubuhkan obat merah (yang langsung membuat seorang Jeon Jungkook menjerit-jerit heboh), dan membalut luka-luka itu dengan perban.
“ Namamu….siapa?” Jungkook membuka suara setelah keduanya berdiam lama-lama.
“ Risae. Song Risae” Jawaban ia berikan tanpa melihat sang penanya, pandangannya terpaku pada ribuan tetes air yang ditumpahkan oleh langit Seoul.
“ Aku….namaku Jeon…”
“ Jeon Jungkook, iya aku tahu” potong Risae dengan senyuman. Jungkook tertegun sesaat.
“ Kau tahu….darimana?”
“ Aku juga anak Cheondam. Kita satu angkatan, hanya saja berbeda kelas”
“ Oh” Jungkook mangut-mangut tanda mengerti.
“ Biar kutebak. Kau pasti terluka karena terjatuh dari motormu saat balapan liar barusan, apa benar?”
Untuk kedua kalinya, Jungkook tertegun. “ Bagaimana kau tahu soal balapan liar malam ini?!”
“ Aku hanya tahu” jawab Risae. Tak lupa dengan senyuman manis. Dan Jungkook mulai menyukai senyuman itu, sedikit. “ Karena aku adalah alasan kenapa kalian dipanggil oleh guru konselor sehari setelah balapan”
“ Jadi kau yang melapor?!” Jungkook tak percaya dengan apa yang ia dengar. Orang yang membalut luka-lukanya adalah orang yang membuat orangtuanya harus datang jauh-jauh dari Daegu untuk memenuhi panggilan sekolah. “ Terlalu ikut campur”
“ Aku tidak mau teman-temanku diperbudak oleh otak dangkal mereka” ujar Risae tenang. Jungkook mendengus.
“ Otak dangkal? Ah harusnya aku tahu, kau adalah satu dari anak-anak berprestasi yang namanya selalu berada dalam urutan 5 besar di peringkat angkatan kan? Kumpulan manusia-manusia sombong” ujar Jungkook. Tapi Risae tidak marah. Kembali ia menyunggingkan senyuman.
“ Ya, kalian berotak dangkal. Apa gunanya balapan? Demi mendapat ketenaran? Tidak berguna sekali. Padahal kalian mengorbankan kendaraan kalian…bahkan nyawa. Pengorbanan yang tidak sesuai” Risae tertawa pelan. “ Padahal dikemudian hari, orang-orang tak akan mempertanyakan ‘bagaimana prestasimu di jalanan’ saat menghadapi wawancara kerja”
“ Karena kau, orangtuaku harus mengejar bus dari Busan demi memenuhi panggilan sekolah!” omel Jungkook. Ia mulai kesal dengan topic ini.
“ Kasihan kan mereka? Bayangkan saja kalau tadi kau tidak selamat dan mati ditempat. Orangtuamu tak mungkin mengejar kereta surga agar bisa melihatmu kan?”
Jungkook baru saja akan membalas, tapi Risae sudah berdiri dan membungkuk padanya.
“ Aku pulang duluan, Jungkook. Bye~”
“ Mau kuantar?” secara tiba-tiba Jungkook mengucapkan kata itu. Ia mengejap-ejapkan matanya bingung. Kenapa ia memberi tawaran pada gadis yang baru 5 menit dikenalnya?.
Risae menggeleng. “ Tidak usah. Aku masih mau hidup”
“ Hey, aku akan mengemudi dengan baik!” seru Jungkook.
“ Jangan ikut balapan liar lagi, baru aku bisa menjaJeon hal itu” balas Risae sebelum akhirnya tersenyum dan berlalu.

Jujur, sejak saat itu, Jungkook tidak pernah lagi mengikuti balapan liar. Ia bahkan sudah tak lagi menggunakan motor dan lebih memilih untuk naik angkutan umum. Dan sejak itu pula, Jungkook jadi sering mendatangi Risae. Entah untuk sekedar basa-basi atau mengganggu gadis itu. Tak jarang pula Jungkook datang untuk meJeonta les privat pada nona Song. Tujuannya cuma satu, untuk bisa bersama-sama Risae.
Semua terjadi begitu saja. Jungkook tidak tahu kapan dia mulai jatuh kedalam kubangan yang orang-orang sebut cinta. Dan hari ini, ia ingin menyatakan perasaannya pada gadis itu. Gadis yang telah mengubah segala kebiasaannya secara detil. Dari Jungkook yang berandalan jadi Jungkook yang ramah dan murah senyum.
Lelaki itu melirik arloji dipergelangan tangan kirinya. Baru 15 menit namun Jungkook sudah tidak sabaran. Ia ingin melihat Risae sekarang. Dengan mantap ia melangkah lagi. Penuh tujuan kali ini.
“ Jeon!” panggil seseorang dengan suara familiar yang secara otomatis menghentikan lelaki tampan itu. Jungkook berbalik, menatap gadis cantik dengan langkah kecil menuju kearahnya. “ Apa yang kau lakukan disini? Kau bilang ingin menemuiku didepan sungai Han….”
Intonasi tinggi yang selalu digunakan Risae mendadak rendah ketika Jungkook mengeluarkan sekuntum mawar merah dari balik badannya. Disodorkannya bunga itu pada Risae (yang sedang mengejap-ejap bingung). Rona wajah Jungkook berubah. Ia terlihat tegang. Keduanya saling bertatapan dalam diam. Yang bersuara hanya detak jantung yang memompa cepat dibalik rongga dada Risae dan Jungkook.
“ Ini….” Risae angkat bicara. “ ….untukku?”
“ I….ya” Jungkook membiarkan Risae mengambil sendiri bunga yang disodorkan padanya. Lelaki itu mengusap-usap tengkuknya gugup. “ Risae aku…..”
“ Ya?”
“ Aku…..”
“ Kau….?”
“ Aku…..”
Gadis itu mulai memberikan tatapan menyebalkan. “ Bicara yang je-”
“ AKUSUKAPADAMU!” seru Jungkook cepat.
Rasanya darah Jungkook mendidih dan mengalir deras kekepala. Wajahnya merah padam menahan malu. Keadaan Risae tak lebih baik. Ia menggaruk-garuk kepalanya.
“…..Apa tadi kau bilang?”
“ Tidak ada pengulangan” ujar Jungkook datar. Risae mendengus kesal.
“ Ish. Kau menyebalkan sekali” kesal gadis itu. Ia berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Jungkook yang terpaku ditempatnya.
“ AKU-SUKA-PADAMU!” teriakan Jungkook berhasil menghentikan langkah Risae. Jungkook menelan ludahnya sebelum melanjutkan. “ Maukah kau…..jadi kekasihku?”
Tidak ada respon apapun. Risae tidak berjalan, tapi juga tidak berbalik. Rasa-rasanya Jungkook sudah mau mati ditempat.
“ Ri…sae?” panggil Jungkook. Masih tidak ada jawaban. “ Risae ak…..”
Jeon Jungkook membeku tepat ketika Risae menerjangnya dan memeluknya. Lelaki itu bahkan tidak kuasa untuk menggerakan tangannya untuk sekedar membalas dekapan tersebut. Namun tidak begitu lama untuk Risae melepaskannya.
“ Ya. Aku mau” jawabnya sambil tersenyum cerah.

***

HAaaAAAAAaaaai! salam kenal, aku author baru disini, bangtanpinkeu imnida ^^

bagaimana ceritanya? mohon RCLnya yaaaa

Advertisements

2 thoughts on “Confession

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s